Arah Pendidikan : Refleksi Hari Pendidikan dan Hari Lahir Pemuda Muhammadiyah

Aslan, SE., M.Ec.Dev
Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah
Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Kalimantan Utara
 
Tanggal 2 Mei membawa makna ganda yang sangat penting bagi Indonesia. Selain diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional yang mengusung semangat Ki Hajar Dewantara, hari ini juga bertepatan dengan Hari Lahir Pemuda Muhammadiyah sebuah momentum yang mengingatkan kita pada peran penting pemuda dalam perjuangan pendidikan dan peradaban Islam di Indonesia. Dalam konteks ini, kolaborasi antara gerakan pemuda dan institusi pendidikan menjadi kunci. Pendidikan tidak boleh dipisahkan dari misi kebudayaan dan keadilan sosial. Seperti ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara, “pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya”. Begitupun KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, menjadi lensa kritis yang sangat relevan untuk meninjau arah pendidikan nasional yang kian kehilangan jati dirinya.

Baik Ki Hajar Dewantara maupun KH Ahmad Dahlan sama-sama melihat pendidikan sebagai sarana pembebasan. Bukan sekadar mencerdaskan secara akademik, tetapi memanusiakan manusia (humanisasi). KH Ahmad Dahlan bahkan menekankan bahwa pendidikan Islam bukan sekadar pengajaran dogma, melainkan proses pencerdasan akal, pencerahan ruhani, dan penguatan aksi sosial. Bagi beliau, pendidikan adalah amal saleh. Maka, mendirikan sekolah bukan hanya aktivitas administratif, melainkan bagian dari jihad kebudayaan. Hal ini terlihat dari bagaimana Muhammadiyah sejak awal abad ke-20 membangun lembaga pendidikan yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum secara progresif, termasuk sekolah-sekolah dan pesantren.

--Advertisement--


Krisis Identitas Pendidikan: Komersialisasi dan Ketimpangan Akses
Saat ini, pendidikan nasional menghadapi krisis serius, bukan hanya dari aspek kualitas, tetapi juga dari sisi keadilan. Salah satu persoalan yang mencolok adalah komersialisasi pendidikan di sekolah negeri. Di banyak tempat, sekolah negeri yang seharusnya gratis justru membebankan biaya tinggi kepada orang tua siswa, melalui pungutan liar, sumbangan "sukarela" yang memaksa, atau praktik jual beli seragam dan perlengkapan sekolah yang merugikan masyarakat miskin.

Laporan Ombudsman RI tahun 2023 mencatat bahwa setidaknya 38% sekolah negeri terindikasi melakukan pungutan di luar aturan, yang tidak jarang menghalangi anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk terus belajar. Di sisi lain, ketimpangan akses pendidikan digital di daerah 3T juga semakin mencolok pascapandemi. Anak-anak di Nias, Papua, hingga pedalaman Kalimantan masih belum memiliki akses memadai ke internet, gawai, atau bahkan tenaga pendidik yang layak.
Pemuda Muhammadiyah bukan sekadar sayap organisasi, melainkan garda depan perubahan sosial. KH Ahmad Dahlan tidak pernah memosisikan anak muda sebagai pelengkap, tetapi sebagai penggerak. Oleh karena itu, Hari Lahir Pemuda Muhammadiyah harus dimaknai sebagai panggilan sejarah untuk merebut kembali arah pendidikan bangsa dari hegemoni kapital dan sekularisme semu. Pemuda Muhammadiyah hari ini harus menyuarakan pentingnya pendidikan berbasis nilai, yang tidak hanya mengejar output akademik, tetapi juga membentuk kepribadian yang berakhlak, nasionalis, dan mandiri. Termasuk dengan mengadvokasi kebijakan publik agar pendidikan benar-benar gratis, adil, dan merata, terutama bagi anak-anak miskin dan masyarakat pinggiran.

Kalimantan Utara menyimpan tantangan besar dalam sektor pendidikan, khususnya terkait akses pendidikan digital. Di banyak wilayah perbatasan seperti Krayan (Kabupaten Nunukan) dan Long Nawang (Malinau), jaringan internet masih sangat terbatas atau bahkan tidak tersedia sama sekali. Situasi ini diperparah dengan infrastruktur jalan yang rusak parah, minimnya jumlah guru, serta fasilitas sekolah yang sangat terbatas. Dalam laporan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Utara (2023), disebutkan bahwa lebih dari 60% sekolah di wilayah pedalaman tidak memiliki koneksi internet memadai, sementara program digitalisasi pendidikan dari pusat tetap bergulir tanpa mempertimbangkan kesiapan daerah. Akibatnya, siswa-siswa di Kalimantan Utara tertinggal jauh dari rekan-rekan mereka di kota besar dalam penguasaan teknologi dan literasi digital.
KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa dakwah harus dilakukan lewat jalan pendidikan dan pembebasan. Maka, peringatan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Lahir Pemuda Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan seremoni. Diperlukan gerakan nyata yang menata ulang orientasi pendidikan kita dari komersialisasi menjadi humanisasi; dari sekadar transfer pengetahuan menjadi transformasi nilai. Pemuda Muhammadiyah bukan hanya pelaksana program, tetapi pemikul visi peradaban. Dan pendidikan, sebagaimana diyakini oleh KH Ahmad Dahlan, adalah jalan suci untuk membangun bangsa yang berilmu, beriman, dan beradab.

News Admin
235 123
Pusat Dakwah Muhammadiyah

Komp. Masjid Al-Amin Jl. Yos Sudarso

Kota Tarakan, Kalimantan Utara

pwm.kalimantanutara@gmail.com

Kanal Media Sosial

© Media dan Komunikasi PWM Kalimantan Utara